Maknapuisi dapat ditujukan sebagai wujud rasa syukur dan cinta terhadap kekayaan alam yang diberikan oleh tuhan. Siang , sering mengingatkan aku kepada matahari. Pengertian mendung menurut kamu bahasa indonesia mendung adalah awan yang mengandung hujan biasanya berwarna hitam merata di langit, menandakan sebentar lagi akan turun hujan. SelamaMembaca dan Berliterasi. AWAN HITAM BERPELANGI Oleh : Halley Kawistoro hembusan angin mulai bergerak menyapa di sela-sela wajah membawa hawa dingin dan sejuk sesekali menusuk tubuh yang lemah. muncul gemuruh di atas langit burung berterbangan sesekali menepi dari kebingungan mata kita pun terpaku menunggu waktu bilahitam jangan dibuat kehitam-hitaman akan menjadi penyesalan Awan sudah hitam, biarkan hujan yang akan menghentikan perdebatan hujan bisa membuat kehilangan warna telah menjadi lukisan tak akan berubah karena tangisan biarkan dalam pigura kebencian Sungailiat, 16 April 2020 Mohon tunggu Lihat Puisi Selengkapnya Beri Komentar Berwarnahitam tampak suram Dialah awan yang membawa hujan Ketika senja telah tiba Hujan pun turun dengan derasnya Udara panas berganti dingin Udara yang kering berganti basah 12. Sore Yang Indah Betapa indahnya sore itu Saat hujan turun malu-malu Bagai gerimis yang terus mengalir Hujan turun begitu romantis Dibawalah pelangi indah Dimalam yang hitam ini Aku sendiri meringkuk memegang lutut Termenung aku di ambang lelah Menanti pagi yang segera mengetuk Malam ini begitu sunyi terasa Aku hanya sendiri memandang bulan Melihat bahwa di sana seseorang melihat bulan yang sama Meski nyata jarak memisah Malam ini begitu sunyi terasa Disini hanya ada sebilah rindu PuisiHujan Hujan Terakhir Dalam Ingatan Suara Hujan Hujan Malam Ini Hujan Rintik Hujan Kamu Dan Hujan Aku kira, senja tak akan menjadi indah karena aku tak melihatnya Aku kira, pelangipun tak akan berwarna karena aku tahu hanyalah tinta hitam legam dalam pandangan Dan aku mengira, dawai hujan akan selalu ternada Apakah kau tahu, apa itu hujan? Ditiap rintik hujan ku selalu menantimu Menanti hadir indah warnamu yang tinggi Menanti kau membentang sukma. Pelangi yang indah Aku ingin menjadi sepertimu Menjadi warna indah setelah hitam Menjadi senyuman setelah airmata. -Rayhandi- Pelangi Oh pelangi! kaulah yang membawa senyumku, kau menyejukan hatiku sehabis hujan melindas. KumpulanPuisi Alam Terbaik. Angin yang Beralih. Puisi Alam - Telaga di Tepi Desa. Pesona Alam Hijau. Puisi Alam - Mahameru. Angin Dan Kemegahannya. Puisi Alam - Cantikmu di Seberang Nusa. Derai Cemara Udang. Puisi Alam Pendek - Gersang. PuisiTentang Hewan Untuk Anak SD. Semut Yang Mungil. Engkaulah semut yang mungil, Ukuranmu sangatlah kecil, Berbondong berebut makanan, Untuk melangsungkan kehidupan. Makanan kau bawa ke sarang, Berbondong saling menopang, Meski tubuhmu sangat kecil, Tapi kerjasamamu amat terampil. Kaulah di semut hitam, Selalu berjalan tak suka diam, Jumlahmu Puisihujan yang berwarna hitam. Aku memandang uap itu naik sebentar lalu pergi dibawa angin. Kejadian itu menimbulkan sejumlah teori dan spekulasi yang beredar di berbagai situs media sosial. Terparah di Desa Jati Wetan yang mencapai 145 cm sedangkan daerah lainnya rata-rata bertambah tinggi sekitar 20 cm. sToFUx. Puisi hujan – Selain senja, mungkin hujan juga menjadi salah satu momen yang memberikan kenangan tersendiri bagi sebagian orang. Entah itu merupakan suatu momen kerinduan atau bahkan sebuah momen yang menyebalkan. Dari hujan, banyak seniman menciptakan karya yang terinspirasi oleh adanya hujan. Hujan menjadi anugerah tersendiri bagi setiap orang. Untuk seseorang yang terbiasa mengungkapkan suatu momen lewat puisi, berikut ini adalah puisi-puisi karangan dari beberapa seniman yang mungkin bisa mewakili sensitif perasaan pembaca. ContentsKumpulan Puisi HujanDi Dalam Senandung HujanEmbun Aku terdiam dalam hujan Mentari SenjaTerjebak HujanGelisah Dalam Alunan Rintik HujanHujan Ada Mulai kakuKisah Katak Hujan yang menyejukkan hatiReda Hujan Jadikan Aku HujanIbu HujanTiga InderaHujan GersangMungkin CukupSetitik HujanRindu MuraiDalam Selasa KeduaHujan KecilMusim Hujan Berselimut DukaSiklus HujanLirihan NirwanaKelinci Bersayap PutihHujan dan SenjaMemori Tetesan HujanJangan TanyaKisah HujanSeperti HujanKata Bapak Tentang HujanPelangiHujan Di TernateDinginmu oh HujanKu Sambut HujanTitisan Hujan Bersama Nyanyian SyahduWalau Habis TerangWasiat GelandanganHujan KelabuHujan Hanya Setitik AirKisahku dan HujanRintik Hujan Rinai Memberai Air HujanHujan Bersamamu Kehadiran Hujan Kisahku Tak Merindu HujanRintik Rindu NovenaKenyataan di Balik HujanSajak Pertemuan Hujan Senja Kumpulan Puisi Hujan Di Dalam Senandung Hujan ***** Aku berpuisi di bawah sinyal dari langit Di dalam senandung hujan ***** Wahai alamku Hujan menyampaikan bau rindu yang lama terpendam Ranum dan merekah selaksa salam dari doa Aku padamu ***** Wahai alamku Bila di sana hujan maka aku titipkan pesan Melalui sayatan sayatan rintiknya Yang berbaris menyalamimu ***** Bila tidak maka lewat angin dan udara Yang menyelimuti tubuhmu Ku gelorakan salamku Wahai alamku ***** Aku berpuisi di bawah sinyal dari langit Di dalam senandung hujan ***** Embun ***** Perihal hujan, Aku tertarik pada embun Embun yang berada pada sebuah kaca jendela Memperlihatkan jejak tetesan air hujan Dan dingin yang menjadikannya buram ***** Perihal embun, Kerap kali aku menggunakan jari ini Menuliskan sebuah nama Atau serangkaian kata Mungkin tak berguna Karena hanya sementara Tetapi setidaknya aku melepaskan sedikit kerinduan ***** Perihal rindu, Jika kamu adalah embun Aku selalu menantikan hujan itu datang ***** Aku terdiam dalam hujan ***** Saat itu aku terdiam Melihat tatapannya Yang kosong menatap hujan ***** Kau tak apa? Tanyaku perlahan Lagi bingung ya? Tebakku sok tahu ***** Masih menatap hujan Ia menggeleng, Berkata, ***** “Melihat hujan aku merasa tenang Meski angin bergemuruh, Halilintar meraung Air – air itu tetap berjatuhan Beriringan dengan irama Tenang” ***** Kami berdua terdiam Bersama menatap hujan ***** Mentari Senja ***** Aku keluar Ku lihat matahari yang terbenam Tenggelam Menghiasi wajahmu ***** Terjebak Hujan ***** Apakah kamu pernah terjebak hujan? Yang tak tahu arah untuk berteduh Apakah kamu pernah terjebak kerinduan? Yang tak tahu kepada siapa jika mengeluh ***** Sekali- kali cobalah dengan sengaja Terjebak hujan Agar kamu mengerti Terjebak itu bukan hal yang menyenangkan Meski bagimu itu adalah bagian dari permainan ***** Setahuku rindu bukan jebakan Tetapi karenamu yang memberi harapan Membuatku terjebak bersama hujan ***** Gelisah Dalam Alunan Rintik Hujan ***** Oleh Ardhi Dwi Pranata Geliat senja menutup aktivitas Lalu lalang kendaraan menyesaki jalanan Pedagang kaki lima tampak berbenah Awan pun bermuram durja ***** Kabar itu menggelisahkan pikiran Dalam parodi jalanan menemani perjalanan Kelap kelip lampu persimpangan mengusik pikiran Awan pun bergelagar ***** Rintik hujan mulai turun Lambat namun pasti kaca mobil mengembun Derit roda terdengar serak Kabar itu masih menghantui ***** Gelisah berteman rintik hujan Asa memecahkan kabar itu Alunan rintik mengalun dalam telinga Sedikit regang pikiran ini ***** Hujan ***** Oleh Rosdiana N H Kehadiranmu menyejukkan hati Dengan senyum mu yang begitu berarti Menggerakkan jiwa yang tak ku mengerti Karena kamu lah yang ku nanti ***** Meski dengan sekilas perjumpaan Bersyukur karena ada kebersamaan Meninggalkan kesan yang indah Walau hanya sebuah impian ***** Seperti malam yang kelam Dalam suasana yang mencengkam Hanya bisa berharap dalam diam Untuk perasaan yang terpendam ***** Ada ***** Oleh Muhammad Rajib Raka tirta Ada perasaan Yang bahkan tak bisa Diungkapkan dalam puisi ***** Aku bertanya, Mengapa? ***** Namun, itu pertanyaan abadi Tanpa jawab Tanpa tanggap Hanya senyap ***** Aku coba mulai menulis namun Ku rasa jemariku ***** Mulai kaku ***** Karena Ada perasaan Yang bahkan tidak bisa Di ungkapkan dalam puisi ***** Kisah Katak Kisah Katak ***** Oleh Muh. Idsan, S. Pd Gendang bertabu di atas langit dengan gema yang memekakkan Awan tak sanggup menahan beban yang menyesakkan Musim hujan pun datang dan siap untuk di rayakan Barisan katak terbangun dari peristirahatan panjang yang melelahkan ***** Pasukan katak mendorong kura- kura yang lamban Membawa waktu Di depan sana, ada hujan yang telah lama di tunggu Sejauh mata memandang keberadaan itu Jarak pula menyakiti jejak pada rasa yang pilu ***** Dahaga telah mengikis kerongkongan Panas mentari mengupas kulit yang kekeringan dan menghalangi jalan Cepatlah menyingkir kura- kura yang menyebalkan Kami katak, sang perindu hujan ***** Sedikit lagi akan sampai di tujuan Bersiap untuk bermandikan bulir- bulir bening harapan Bertahanlah, sisa beberapa langkah lagi untuk di lawan Sial hujan berhenti di depan pandangan ***** Hujan yang menyejukkan hati puisi hujan ***** Kehadiranmu begitu menyejukkan hati Dengan senyum mu yang begitu berarti Menggetarkan jiwa yang tak ku mengerti Karena kamu lah yang ku nanti ***** Meski dengan sekilas perjumpaan Bersyukur karena ada kebersamaan Meninggalkan kesan yang indah Walau hanya sebuah impian ***** Seperti malam yang kelam Dalam suasana yang mencengkam Hanya bisa berharap dalam diam Untuk perasaan yang terpendam ***** Seperti mendung tapi tak hujan Seperti gerimis yang hanya sekilas Ada apa dengan gerangan? Memberi tanda tapi tak selaras ***** Egokah jika aku kecewa? Dengannya yang bukan siapa siapa Bagai bulan dan matahari Tak pernah menyatu meski berarti ***** Reda Hujan ***** Oleh D I H Ku perhatikan kamu sering menikmati hujan Dengan secangkir kopi Lalu setelah mereda Kamu beranjak pergi ***** Ku perhatikan kamu sering memberi ungkapan dengan sebuah janji lalu setelah ku percaya kamu beranjak pergi ***** dan kebiasaanku memperhatikanmu Membuatku tersadar Jika memang sebenarnya Kamu juga tak peduli ***** Juga Kamu tak pernah menunggu reda karena hujan Tetapi hanya karena kamu ingin pergi ***** Semestinya Aku tak pernah menunggu sebuah jeda Karena penantian Tetapi hanya karena kamu yang pergi Seperti ini ***** Jadikan Aku Hujan puisi hujan ***** Oleh Afifatur Rohmah Jadikanlah aku hujan Akan ku lukis kisah dengan muara air Akan ku buat bendungan yang di penuhi cinta Akan ku penuhi jiwamu dengan rintiknya rindu ***** Ajari aku menjadi hujan Agar aku bisa mengobati hausmu Haus akan dentuman rindu Mengalirkan kesejukan pada tubuhmu yang basah ***** Ijinkan aku menjadi hujan Aku ingin mengalir bebas di wajahmu Aku ingin persembahkan musik dengan jatuhnya aku Membuat alunan pada dinginnya cintamu Tapi, ini janjiku Tak akan ada petir yang membuatmu benci akan hadirku ***** Ibu Hujan ***** Oleh Joko Pinurbo Ibu hujan dan anak – anak hujan Berkeliaran mencari ayah hujan Di perkampungan puisi hujan ***** Anak – anak hujan berlarian Meninggalkan ibu hujan Menggigil sendirian di bawah pohon hujan ***** Anak- anak hujan bersorak girang Menemukan ayah hujan Di semak semak hujan Ayah hujan mengaduh kesakitan Tertimpa tiga kilogram hujan ***** Ayah hujan dan anak – anak hujan Ber ramai ramai menemui ibu hujan Tapi ibu hujan sudah tidak ada Di bawah pohon hujan ***** “kita tak akan menemukan ibu hujan di sini Ibu hujan sudah berada di luar hujan” ***** Tiga Indera ***** Dan jika Telingaku jatuh cinta Pada siulan burung itu, ***** Atau saat Mataku terpesona Pada warna- warni bulunya, ***** Dan juga Saat hidungku terbuai Merasa aroma burung surga ***** Aku katakan “bersatulah ! Maka akan lebih indah, Dan beritahulah!” M R R ***** Hujan Gersang puisi hujan ***** Gersang pucat tak bernyawa Seperti daun di musim kemarau Ini hati telah mati rasa Menunggumu yang terus berlalu ***** Angin berhembus menerjang dedaunan Terhempas jauh keras tak terarah Kau yang selalu menjadi kekuatan Kini tak ada lagi perlahan musnah ***** Inilah puncak di musim kemarau Menyambut hujan berhawa dingin Beginikah rasanya mencintaimu? Kau yang telah jadi milik orang lain ***** Mungkin Cukup ***** Oleh Muhammad Rajib Raka tirta Telah ku katakan Kepada sebuah pohon rimbun Bahwa aku Mengagumi helai daunnya ***** Juga kokoh batang dan akarnya Kalau saja Ia bertanya ***** Pohon itu terdiam Tatapan bisunya merengkuhku Angin berkata “Pohon itu tersenyum” ***** Dan aku kembali Ke rumah Dengan sebatang pena Di atas kertas ***** Setitik Hujan puisi hujan ***** Mata yang selalu bersinar Indah senyum yang di sunggingkan Kepiawaian dalam berbicara Anugerah Tuhan yang sungguh sempurna Elokkah aku inginkannya? Langkah hati ingin berada di dekatnya ***** Alangkah indah bila tak ada benteng Rasa hati ingin aku sampaikan Dari perasaan yang terdalam Yakin ini cinta dalam hati akan ku nyatakan ***** Aku hanyalah setitik air yang akan menguap di kala terik membuat langit mendung berawan hingga mengundang hujan untuk turun ke bumi ***** Seperti itulah siklusnya Hanya dapat memandangimu dari kejauhan Menyimpan sejuta rasa yang terpendam Hingga akhirnya hanya menjadi sebuah angan ***** Tak bisakah aku menjadi hujan? Yang di setiap rinainya membawa kesejukan Tak bisakah aku menjadi pelangi? Yang membuat hidupmu menjadi lebih berarti ***** Rindu Murai ***** Oleh Muhammad Rajib Raka tirta Awalnya Aku berharap Murai itu tetap diam Dan tidak terbang ***** Kini aku takut Murai itu terbang Dan menjauh ***** Aku pemburu Yang hendak mengamati Murai tersebut Tanpa perlu menembaknya ***** Dalam Selasa Kedua ***** Oleh Muhammad Rajib Raka tirta Dalam sebuah buku, Aku dengar Morrie Berkata, ***** “Cinta adalah Satu satunya perbuatan Yang rasional” ***** Betapa terkejutnya aku Saat aku tahu Bahwa aku percaya Sejak awal ***** Hujan Kecil ***** Oleh Joko Pinurbo Hujan tumbuh di kepalaku Hujan hanya penyegar waktu ***** Memancur kecil – kecil Mericik kecil – kecil Di hiasi petir kecil – kecil Hujan masa kecil ***** Tetes Cinta Oleh Yuhana Rahayu Mega kelam menembus malam Laksana tetes raksa yang terus menerjang Panas namun terasa dingin Hingga kulit tak mampu untuk bernyanyi Tetes setiap tangisan sang mega berhambur Mengubur segala memori yang terkubur Bagai guruh yang mengadu dengan kilatan sambar Mengikat segala yang terdengar Tetes- tetes cinta membasahi kalbu Meriap dalam dekap asa yang tersirat Mengoyak rasa luka yang terpampang nyata Menumpah segala tangis haru bahagia Tetes – tetes cinta mencampur adukkan resah dalam dada Cintaku kelam namun manis Tapi aku tak mampu mengatakannya cinta Karena hanya aku yang mencinta ***** Musim Hujan Berselimut Duka puisi hujan ***** Oleh Fakhri Fikri Rangkaian kata ku susun menjadi aksara Bercerita tentang musim hujan berselimut duka Dimana senja tak lagi jingga Dimana mentari enggan menampakkan muka ***** Kala itu, langit menangis berlinang air mata Guntur beretorika tanpa bisa mengucapkan sepatah kata Indonesia berduka Bapak pluralisme bangsa telah tiada ***** Siklus Hujan puisi hujan ***** Oleh D I H Apakah kamu tahu siklus hujan panjang? Yang memulai penguapan dari laut hingga turun hujan di daratan Apakah kamu tahu siklus hubungan yang panjang? Yang memulai pengharapan dari awal hingga berhujung pada penantian ***** Kamu pernah berkata, Jika hujan membutuhkan tahapan siklus transpirasi Yaitu penguapan Yang berasal dari tumbuhan ***** Tetapi kamu lupa berkata, Jika aku juga membutuhkan sebuah siklus serupa transpirasi Agar menguapkan kerinduan yang berasaan dari mana? Baiknya jangan kamu tanyakan ***** Lirihan Nirwana puisi hujan ***** Oleh Armielda Rayya Cepat- cepatlah menari Langit telah melempar berkah Menujumu yang menanti dengan tangan terbentang Dinginkan hati lewat lirih suara cakrawala Yang pecah membanjiri tapakan air mata ***** Berhentilah berduka Dia telah memanggilmu Lewat bisikan malu – malu Yang mengubur nestapa ***** Kelinci Bersayap Putih Kelinci Bersayap Putih ***** oleh Muhammad Rajib Raka Tirta Wusshh.. Cepat nian kau terbang Rambut – rambutmu putih, hai kelinci Maukah kau kemari? Ke rumah renta kami? ***** Tak perlu di tanyakah ? Mungkin kau anggukkan kepalamu, oh kelinci lucu Kau mau? Bermain sebentar di rumah ini? Oh, mengapa kau menggelengkan matamu? Aku menunduk. Aku di tolak ***** Wusshh.. Kau melesat dengan sayapmu Ah, kelinci manis Kau hanya imaji Tapi mengapa kau nyata? Hebat ya aku bermimpi saat terjaga ***** Pernahkah kau bermimpi? Menyentuh bintang dan mencumbu bulan? Tak perlu aku bertanya Kau dengan mudahnya pergi ke bulan Tapi aku? Huh, untuk melihatmu saja aku tak mampu Ayo kemari ***** Biarkan aku bersamamu Kelinci bersayap putih Yang turun dari tanah Yang muncul dari bawah langit ***** Hujan dan Senja ***** Oleh Rosdiana N H Seperti mendung tapi tak hujan Seperti gerimis yang hanya sekilas Ada apa gerangan? Memberi tanda tapi tak selaras ***** Egokah jika aku kecewa? Dengannya yang bukan siapa- siapa Bagai bulan dan matahari Tak pernah menyatu meski berarti ***** Kehadiranmu menyejukkan hati Dengan senyummu yang begitu berarti Menggetarkan jiwa yang tak ku mengerti Karena kamu lah yang ku nanti ***** Meski dengan sekilas perjumpaan Bersyukur karena ada kebersamaan Meninggalkan kesan yang indah Walau hanya sebuah impian ***** Memori Tetesan Hujan puisi hujan ***** Oleh Setia Erliza Sehelai daun hijau panjang Menutupi mahkota dari derasnya hujan Menuju tempat lautan ilmu Beberapa tahun yang silam Saat aku duduk di bangku Sekolah dasar Memori daun pisang menjadi bait kisah haru Menempak kisah di musim penghujan Basah? ***** Ayah, derasnya hujan hujan menerpa tubuhku Sambil menggigil kau genggam tanganku Jelas terlihat dari tangan keriputmu Menuntunku di bawah derasnya hujan ***** Daun pisang mengukir kisah haru Ciptakan kenangan indah tak terhingga Antara aku, ayah dan hujan ***** Jangan Tanya puisi hujan ***** Oleh Muhammad Rajib Raka Tirta Jangan tanya Dan jangan pernah Basi kalau bilang cinta Cupu Kalau bilang sayang ***** Tapi diam Di kata sombong Jangan tanya Tidak usah Tak perlu mengambarkan Seluas semesta Tak perlu mengandaikan ***** Seharum bunga kesturi Tak perlu berkata Seindah langit cerah Jangan tanya Dan tidak perlu bertanya Kau tidak pernah percaya ***** Percuma jika aku jawab Kau tak perlu bertanya Aku sebenarnya… Cukup Kau seharusnya sudah tau Ya benar Hanya pengagum punggungmu ***** Kisah Hujan puisi hujan ***** Oleh Rieneke Cahyani Aku menanti dirimu Seperti air menghujam sendu Terus jatuh mengalir kelu Hujan berteriak pilu Tak kau dengar dalam surau Jiwa ku termenung kelabu Menunggu cinta semanis madu Hingga usai balutan waktu Hujan seminggu berlalu Tersisa petrichor syahdu ***** Seperti Hujan puisi hujan ***** Oleh Michra Fahmi Mereka bilang aku aneh … Karena aku selalu menunggu air turun dari langit Mereka juga bilang aku gila Karena senang bercerita pada hujan Mereka selalu menjauh ketika rintik menyapa Sementara aku selalu menyambutnya dengan riang ***** Kau benar tentang hujan, ada aroma tanah yang terjamah Dan selalu menggugah rasa rindu antara kita Aku harap kau tau pernah lupa pada hujan yang mempertemukan kita Saat bersama tersenyum memandang langit hitam dan derasnya hujan ***** Kau ajarkan aku menjadi seperti hujan di malam hari Atas harapan dan rinduku pada seseorang Yaaaah… Hujan yang tak pernah lelah turun meski malam Dan tak pula mengharapkan datangnya pelangi ***** Kata Bapak Tentang Hujan puisi hujan ***** Oleh Sinta Nuriyah Dewi Temaramnya mentari menemani sepinya pagi Mendung yang menggulung tak luput berpartisipasi Rintik yang menitik dari langit mengeluarkan aroma sedu sedan Basah yang merambah menambah hujan kepiluan ***** Menengadah pada titik demi titik yang terasa menggelitik Nuraniku berharap tiap jatuhannya kan hapus tiap pelik Segar yang tergambar pada definisi indraku Menghantarkan kenyamanan tentraman jasad ruhaniahku ***** Sebuah nasehat pernah banyak bisikkan “Hujan yang langit karuniakan, Kerap suratkan kesukacitaan, Tak jarang siratkan peringatan” ***** Pelangi puisi hujan ***** Oleh D I H Kapankah kamu terakhir melihat pelangi? Apakah kamu pernah menunggu pelangi setelah hujan? Kapankah kita bertemu kembali? Apakah kamu pernah menunggu kembali setelah penantian? Pelangi itu indah tetapi tak lama Dia juga akan menghilang Aku tak pernah menjadikanmu seperti pelangi Tetapi mengapa kamu juga menghilang ? ***** Hujan Di Ternate puisi hujan ***** Oleh Abi N. Bayan Kau tumpah lagi di gelasku Dan aku mesti menyeduh Sisa – sisa teh dari cangkirmu ***** Malam ini, aku kembali Memelukmu dalam diam Sebelum asap rokok mati dari tanganku ***** Ada gigil tiba – tiba renyah di ruangan ini Melesat keluar jendela Dan kau sibuk merapikan sesak ***** Dinginmu oh Hujan ***** Oleh Laili Gadis Hasanah Malam itu aku masih menunggu Lautan harapan ku gantungkan penuh bisu Rintik hujan seolah tahu kisah kita haru membiru Ah , biarlah penantian ini seakan membatu Mentari kadang harus mengalah demi hujan Membiarkan mereka menyatu dengan alam ketenangan Biarlah hanya aku yang tak bertuan Berdiri ragu seakan angin mampu menghempasku Bertanya dan dapatkan jawaban dalam angan semu Berharap rintik hujan segera menyampaikan pesanku ***** Aku lelah, lesu, tak mampu lagi bertahan Hanya mampu berharap tuhan cepat menegurmu Wahai pemilik dinginnya hati Ketuklah pintu reot yang telah lama ku tuju Aku lelah terus menunggu Dinginmu seakan tak pernah pergi kala mentari membakar kisahku Dinginmu tetap sama ***** Ku Sambut Hujan puisi hujan ***** Oleh Ely Widayati Detik waktu berlalu meninggalkan kawan Kemarau yang mendera mulai bosan Tanaman rimpang menyembunyikan dahan Rumput kering menahan lapar ***** Bilakah hujan datang menghampiri Walau turunnya rinai kecil Mereka senang akan harum hujanmu Membawa kesejukan riang dalam kalbu ***** Rintik tawamu menyuburkan tanah Meski di sini ada air dalam kulah Namun aliran hujan lebih berkah Air alam ciptaan Allah ***** Ku sambut musim hujan ini Dengan senyuman tulus dari dasar hati Agar alam tidak ternodai Agar hujan tidak di caci ***** Titisan Hujan Bersama Nyanyian Syahdu ***** Oleh Jannatul Ula Kilau mentari menyinari bumi dengan tandus alam yang menerjang Seketika awan merubah wujud menjadi mangsa kegelapan Mengharap curahan air yang menabur Rintihan suci menghidupkan dunia indah nan syahdu ***** Memanggil cinta bagai akar menjalar untuk tetap bersemi Menghias bunga mekar di iringi musik gemercikanmu dari kelayuan Menghias alam dengan biasan mentari Sebagai tangga cinta sang bidadari Butiran embun menempel di ujung dedaunan Membentuk indah bagai mutiara bening ***** Rintihan hujan butir suaramu menyejukkan imajiku Dalam keheningan anganku terbang entah kemana bersama angin Disertai melodi indah suaramu berpantul dengan hembusan angin Membuat tubuh ini membeku Dengan hawa yang kau curahkan ***** Walau Habis Terang Walau Habis Terang ***** Oleh Nur Rohimah Sekawanan awan hitam telah puas Menumpahkan segala noda yang mengungkung Kini dengan pakaiannya yang putih bersih Kembali ke peraduannya ***** Rama- rama mengepak sayap Kumbang menyeruput setetes air Yang menggelayut di kelopak bunga Dedaunan mengibas- ngibas tubuhnya yang kuyup ***** Aroma tanah renyai – renyai menyeruak Pelangi datang berpendar Dalam bias warnanya Ia melambaikan senyum ***** Wasiat Gelandangan ***** Oleh Puspita Idola Pirsouw Jika langit runtuh lebih dulu hujan ku sentuh Sembunyi jauh di saku lusuh Kala lolongan lapar dan nyawa bertengkar Bayi hujan menggelepar dalam mulut ternganga lebar Berulang kali aku mati suri untung hujan ganti nasi ***** Lihat siapa peduli aku Jalanan mencumbu bulan jauh dari kata warisan Bayangpun sekadar pinjaman kembali pada Tuhan ***** Hei lihat siapa peduli aku Gadis liar compang tegar berhati lapang Belajar kejamnya hidup sayang tiada meredup ***** Jikalau langit runtuh Tiada lagi yang ku sentuh Selain hujan senandung peluh Ganti asi ibu dan bait keluh ***** Hujan Kelabu ***** Oleh D I H Ingatkah aku pernah berbicara tentang kelabu? Bahwa putih tetap terang, hitam tetap gelap Namun abu tak selamanya kelabu ***** Dan Ingatkah sekarang aku berbicara tentang rindu? Bahwa angin tetap berhembus, Hujan tetap bergenang Namun rindu tak selamanya berlalu ***** Tahukah? Kelabu berasal dari hitam yang sedikit Dan putih yang lebih banyak ***** Tahukah? Rindu berasal dari pertemuan yang sedikit Dan kenangan yang lebih lebih banyak ***** Tentang kelabu, Kamu sangat berarti Sebab selalu menjadi pertanda jika hujan akan datang ***** Tentang rindu, Kamu sangat berarti Sebab selalu menjadi pertanda Jika kamu telah menghilang ***** Hujan Hanya Setitik Air puisi hujan ***** Oleh Rosdiana N H Aku hanyalah setitik air Yang akan mengap di kala terik Membuat langit mendung berawan Hingga mengundang hujan untuk turun ke bumi ***** Seperti itulah siklusnya Hanya dapat memandangimu dari kejauhan Menyimpan sejuta rasa yang terpendam Hingga akhirnya hanya menjadi sebuah angan ***** Tak bisakah aku menjadi hujan? Yang di setiap rinainya membawa kesejukan Tak bisakah aku menjadi pelangi? Yang membuat hidupmu menjadi lebih berarti ***** Kisahku dan Hujan Kisahku dan Hujan ***** Oleh Ghivan Christine Dalam ayunan langkah, yang semakin lambat Dalam helaan napas, yang semakin dalam Dalam desir angan, yang kian menjauh Dalam desah hati, yang kian membiru ***** Entah harap, entah khayal yang di genggam Entah duka, entah suka yang di kecap Hanya tetes hujan yang paham Hanya tetes hujan yang menjawab ***** Dalam biru yang kian menyatu Di derasnya tetes hujan Tak ada kata yang terucap Tapi selaksa makna terjawab ***** Kisahku, sama dengan hujan Datang dan pergi tanpa pamit Menghembuskan asa dan juga nestapa Hingga hanya dingin yang tersisa ***** Rintik Hujan puisi hujan ***** Oleh D I H Pernahkah kamu memperhatikan tetesan rintik hujan? Yang jatuhnya tak terhitung jumlahnya? Pernahkah kamu memperhatikan tetesan rintik hujan? Yang jatuhnya membawa rindu pada akhirnya? ***** Perihal rintik, Sebuah kata yang mampu menampung genangan Perihal rindu, Sebuah kata yang mampu menampung kenangan ***** Rintik, Ku perhatikan terkadang kamu mereda Namun terkadang menjadi hujan yang lebat Lebat yang membuat pakaianku basah ***** Rindu, Ku perhatikan terkadang kamu mereda Namun terkadang menjadi rasa yang hebat Hebat yang membuat perasaanku resah ***** Rinai Memberai Air Hujan puisi hujan ***** Oleh Pety Rahmalina Rinai datang padaku saat diri tengah menepi Renyai senyawa hidrar memecah sunyi Segala impresi tentangnya menguar memenuhi imaji Kembali pada ilusi tuk berpuisi ***** Rangkaian asa yang ku cipta terberai Dia pergi ketika rinai datang memenuhi semesta tak berisi Serenada pilu mencipta elegi Nyeri yang kau berikan, Ku resapi dalam – dalam saat hujan Sembilu menjalar setiap kali rinai berjatuhan Sembunyikan air mata redam jerit kekecewaan Dalam cinta yang tiada berupa Rinai memberai ***** Rinai memberai rasa Dalam rindu yang membuat tiada Rinai membelai rasa Jadi tiada yang membuat rindu ***** Hujan Bersamamu ***** Oleh Handiyani Aroma itu, waktu itu dalam senja terbenam Hujan memihak dirimu bersemayam Rintiknya menjelaskan wajah bergumam Tanah basah menutupi jejak yang dalam ***** Jelas benar rintik hujan bersamamu Menjadi pemisah saat temu Bertukar air mata semu Hujan menyelimutimu ***** Kehadiran Hujan puisi hujan ***** Kehadiranmu begitu menyejukkan hati Dengan senyum mu yang begitu berarti Menggetarkan jiwa yang tak ku mengerti Karena kamu lah yang ku nanti ***** Meski dengan sekilas perjumpaan Bersyukur karena ada kebersamaan Meninggalkan kesan yang indah Walau hanya sebuah impian ***** Seperti malam yang kelam Dalam suasana yang mencengkam Hanya bisa berharap dalam diam Untuk perasaan yang terpendam ***** Seperti mendung tapi tak hujan Seperti gerimis yang hanya sekilas Ada apa dengan gerangan? Memberi tanda tapi tak selaras ***** Egokah jika aku kecewa? Dengannya yang bukan siapa siapa Bagai bulan dan matahari Tak pernah menyatu meski berarti ***** Kisahku Tak Merindu Hujan puisi hujan ***** Oleh Bukamaruddin Aku adalah tanah kota Kemarau abadi yang di hampiri aspal dan beton Aku tak bisa lagi menjadi laki – laki peneduh Seperti pohon di pinggir jalan yang sekarang enggan berdaun ***** Aku tak bisa lagi menjadi laki – laki lumpur Seperti kesederhanaan tanah dan kenangannya Di sini kisah kasih membantu Tunggu tak lagi patuh Rindu tak lagi butuh ***** Jika engkau memang tiba Maka ku minta gerimismu Karena hanya itu yang membuatku tak meluap ***** Jika engkau tetap datang Maka ku cinta pelangimu Karena hanya itu yang tak membuatku mengeluh ***** Rintik Rindu Novena puisi hujan ***** Oleh Dikha Nawa Lembar keenam, ku mulai lagi untuk mengingatmu Tentang rinduku yang belum tersampaikan Kala percik- percik gerimis menyapaku Di antara aroma remahan tanah yang basah Betapa sulitnya itu Begitu berat menahan lajunya ***** Entah, di rintik ke berapa Ku kan mengeja bayangmu Membahasakan senyum mu saat itu Di sini pun masih terasa sama Hampa serupa kesendirian ini Hingga tak sanggup lagi, hatiku menahan keingkaran ini ***** Andai saja ku mampu Menghalau lajunya waktu Andai saja saat itu Tak bersumpah untuk membencimu ***** Kenyataan di Balik Hujan puisi hujan ***** Oleh Tista Apryandani Pergilah …! Ujarku membara laksana petir membelah sunyi Kian dusta terlanjut aku hempas melukai hati Ku tak pikir sejauh apa langkah kaki pergi Melambai pergi raga tenggelam tak peduli ***** Surat terbuang… Secarik kertas teruntai menari di atas pena Hujan bersaksi dikau menusuk jantung mata Sedih di kala duka hamba menyapa relung raga Berpaling kau pergi silahkan saja Hatiku rela ***** Bersabar… Insan hati terkelupas Sang sarang perih terluka Tinggalkan dikau bagai telur pecah tak berguna Mencintaimu laksana jasad di balik keranda Relung menangis kian terpecah sakit merana ***** Tak peduli … Berlarilah sebahagia kau kejar kapas berkabur Enggan ku lari melangkah menggapai gerimis cinta Sesak hati menggema kaku tenggelam dalam kubur Bibir tak sudi berampun dikau kejam seribu dusta ***** Sajak Pertemuan Hujan Senja puisi hujan ***** Oleh Windarsih Guguran air menyelubungi rona pipi senja Mengembang senyum sepasang insan bertudung payung jingga Bumi sudah di jamah resapan manis hujan senja Usapan tangan di kala pintu – pintu langit terbuka Magis hujan meniduri relung – relung kerinduan Pertemuan perpisahan silih berganti tanpa salam ***** Bagai sebujur kilat membelah angkasa tak pedulikan masa Setara air hujan kala rasa menjatuhkan lara Menatap mata hitam pemegang gagang payung jingga Ku larang melangkah sebelum tangis hujan reda Mencari kening di antara helai rampai legammu Mendaratkan rindu semasa kemarau bertahta padaku ***** Sajak pertemuan di bawah kembang payung hujan Teduhkan jiwa dua insan pemuja ritme tetesan Memori penghujung Desember pelukan batas senja Engkau dan aku meniduri rasa manis air dirgantara ***** Baca Juga Cerita Lucu Sungguh puisi – puisi karya para seniman di atas dapat mewakili suasana di kala hujan. Terima kasih untuk pembaca yang telah membaca puisi tentang hujan ini. Semoga dapat bermanfaat. Hujan siang ini telah menambah pedih lukaBelum juga kering luka lamaTelah tersiram hujan dengan deras Jahitan pun menjadi teretas Tertunda merapat kulit yang terkelupasTak ada peduli, semakin mempertegasDiri sudah memang tak pantas Setiap hujan telah menjadi lukaKetika hujan waktu itu bermulaTak berdaya melawan paksa 1 2 Mohon tunggu... Lihat Puisi Selengkapnya Beri Komentar Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar! Ingin membuat puisi hujan yang bermakna? Simak berbagai contohnya di bawah ini, ya! Puisi adalah salah satu karya sastra yang hingga saat ini memiliki banyak penggemar, mulai dari orang dewasa hingga kalangan muda. Jenis sajak yang satu ini biasanya berisi pandangan atau perasaan penyair mengenai berbagai hal. Oleh sebab itu, puisi seringkali memiliki makna mendalam. Puisi pun menjadi karya sastra yang tak terbatas pada tema tertentu. Bahkan, kamu pun bisa membuat puisi tentang hujan. Ya, hujan memang memiliki makna tersendiri bagi setiap orang. Sebagian orang menganggap bahwa hujan merupakan bentuk ungkapan kesedihan. Sementara yang lain, menganggapnya sebagai sebuah kenangan. Untuk alasan tersebut, fenomena alam yang satu ini kerap dijadikan sebagai inspirasi untuk membuat sebuah puisi. Nah, bagi kamu yang tertarik untuk membuat sajak hujan, berikut beberapa contohnya! Dilansir dari berbagai sumber, inilah contoh puisi tema hujan yang memiliki makna mendalam. 1. Setetes Kenangan Hujan Dulu, Saat semburat merah jingga nan elok. Saat gumpalan kapas gelap bersanding bersama cakrawala. Tetes kehidupan jatuh serentak. Membombardir ribuan kilometer lahan. Impresi menguap di atas tanah. Larut bersama wewangian hujan. Di bawah rintik-rintik nikmat Tuhan. Tersemat manis indahnya janji masa depan. Penuai kebahagiaan semu berselimut basah. Kini, Harus beradu dengan nestapa. Menatap seruan hina yang menyayat jiwa. Menusuk hingga rindu menyeruak keluar. Dengan satu tarikan napas gusar. 2. Hujan yang Turun Lagi Hujan ini turun lagi. Untuk kesekian kali. Mengingatkanmu. Mengingatkanku. Tentang rintik. Soal waktu yang sedetik. Hujan ini turun lagi. Menetesi kedua pipi. Membasahimu. Membasahiku. Tentang kenangan. Soal air mata yang berlinang. Hujan ini turun lagi. Dari kata yang kau namakan puisi. Namamu. Namaku. Tentang kata kata cinta. Soal rasa yang pernah singgah. Hujan ini turun lagi. Membekas di lubuk hati. 3. Puisi Hujan Bulan Juni Tak ada yang lebih tabah, Dari hujan bulan Juni. Dirahasiakannya rintik rindunya. Kepada pohon berbunga itu. Tak ada yang lebih bijak, Dari hujan bulan Juni. Dihapusnya jejak-jejak kakinya. Yang ragu-ragu di jalan itu. Tak ada yang lebih arif, Dari hujan bulan Juni. Dibiarkannya yang tak terucapkan. Diserap akar pohon bunga itu. 4. Hujan Malam Ini Gulungan awan hitam. Telah jadi tanda kehadirannya. Mengalir deras. Ia menghantam bumi. Tak ada lagi tanah gersang. Tak ada lagi bunga yang kehausan. Tak ada jiwa yang rasakan dahaga. Semua tergenangi oleh kesejukannya. Semua kini turut terdiam. Tak ada kata yang terdengar. Semua hanya bisa berharap. Dia kan datang membawa berkah. Bukan tragedi atau bencana. 5. Hujan dan Namamu Senandung lagu mendekap lirih romansa jiwa. Benak menyapa raut wajah yang nyaris tenggelam. Dalam lautan mimpi sang penghirup malam. Melawan hujan, mereguk jejak tanpa nama dunia. Dia yang mencoba membaca arah. Dalam gelap, memanggil cahaya yang tersembunyi di balik aksara. Berdiri sendiri mencoba mengenal suara kerinduan. Adakah dia di sana masih terpaku menatap kenangan. Kemana kau akan berlari. Melepas pagi dan mencoba memutar mentari. Apalah kau masih terlelap dan terus bermimpi. Memuja cinta tanpa rasa haus duniawi. Kenangan hujan memanggilmu, dan tetap memanggil namamu. Meski luka mencoba menjauhkan dirimu dari putaran waktu masa lalu. Bulan di sana masih merindukanmu. Untuk kembali padanya, tanpa menghapus tangisan hujan di wajahmu. 6. Saat Hujan Turun Berteriaklah di depan air terjun tinggi debam suaranya memekakan telinga. Agar tidak ada yang tahu kau sedang berteriak. Berlarilah di tengah padang ilalang tinggi. Pucuk-pucuknya lebih tinggi dari kepala agar tidak ada yang tahu kau sedang berlari. Termenunglah di tengah senyapnya pagi Yang kicau burung pun hilang entah kemana agar tidak tahu kau sedang termangu. Dan menangislah di tengah hujan yang lebat. Agar tidak ada orang tahu bahwa kau sedang menangis. Perasaan adalah perasaan. Tidak dibagikan, tidak diceritakan, tidak disampaikan dia tetap perasaan. 7. Apa Kabar Hujan? Hujan, apa kabar? Malam ini saat kau hadir seketika membawaku dalam dimensi lain. Kau ajak setumpuk kenangan turun bersamamu untuk menghampiriku. Saat itu aku sedang terluka dan kaulah yang setia menemaniku. Hujan, kau ingat isak tangisku malam itu? Ku ceritakan semuanya kepadamu dan kau simpan baik-baik ceritaku sampai hari ini. Hujan, kaulah saksi betapa kuatnya aku saat itu. Hingga hari ini aku bisa berdiri dengan tegak. Akan ku berikan ucapan terima kasih karena kau selalu menyejukan hatiku. 8. Hujan Kumpulan Puisi Tentang Hujan Singkat Sumber 9. Aku, Kamu dan Hujan Contoh Puisi Hujan yang Menarik Sumber 10. Cerita Hujan Mata yang selalu bersinar. Indah senyum yang disunggingkan. Kepiawaian dalam berbicara. Anugerah Tuhan yang sungguh sempurna. Elokkah aku inginkannya? Langkah hati ingin berada di dekatnya. Alangkah indah bila tak ada benteng. Rasa hati ingin aku sampaikan. Dari perasaan yang terdalam. Yakin ini cinta dalam hati yang kunyatakan. *** Itulah kumpulan puisi hujan singkat yang penuh makna. Temukan juga ulasan lainnya seputar kumpulan puisi hanya di Agar tak ketinggalan berita terbaru, ikuti terus Google News kami, ya. Yuk, segera wujudkan keinginan untuk memiliki rumah impian bersama karena kami selalu AdaBuatKamu.